Iman: Jalan Menuju Kebenaran

Manusia: Sebuah Renungan Atas Ciptaan-Nya
12/07/2020
Syahrul Haram: 10 Muharam 1442H
28/08/2020

Iman: Jalan Menuju Kebenaran

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Sesungguhnya masalah iman itu, bukanlah sesuatu yang sifatnya sekunder dalam hidup ini, yang boleh kita abaikan atau kita anggap ringan, atau kita tinggalkan untuk dilupakan. Bagaimana ini boleh terjadi, padahal ia adalah suatu hal yang ada sangkut pautnya dengan hidup manusia dan dengan penentuan nasib hidupnya, bahkan iman adalah merupakan masalah penentuan nasib hidup yang paling penting baginya.

 

Q.S Al-Imran (3): 193

رَبَّنَآ اِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُّنَادِيْ لِلْاِيْمَانِ اَنْ اٰمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَاٰمَنَّا ۖرَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَبْرَارِۚ

Artinya:

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,” maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.

 

Ia bisa membawa manusia kepada kebahagiaan yang abadi atau kepada kecelakaan yang abadi. Sebagaimana iapun bisa membawa manusia masuk ke dalam surga atau terjerumus ke dalam neraka. Maka oleh karenanya, adalah suatu keharusan bagi setiap manusia yang mempunyai akal untuk memikirkannya dan mencari ketentraman dengan hakikat yang sebenarnya.

 

Secara pengertian, iman adalah kepercayaan yang merasuk kedalam hati dengan penuh keyakinan, tidak bercampur dengan keraguan sedikitpun, serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan.

 

Q.S Al-Baqarah (2):8

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَۘ

Artinya:

Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.

 

Jadi, iman itu bukanlah semata-mata hanya ucapan lidah, sedangkan hatinya tidak percaya dan perbuatannya jauh dari kebaikan. Maka iman itu diperlukan kesesuaian antara keyakinan hatinya dengan ucapan dan perbuatannya.

Q.S Al-An’am (6):110

وَنُقَلِّبُ اَفْـِٕدَتَهُمْ وَاَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوْا بِهٖٓ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّنَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ

Artinya:

Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an), dan Kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan.

 

Manusia tanpa keimanan, bagaikan sehelai bulu yang diterbangkan oleh hembusan angin, yang tentunya tidak akan tetap pada suatu keadaan dan tidak akan mengetahui sesuatu arah tertentu, serta tidak akan menetap pada suatu tempat.

Manusia tanpa keimanan, bagaikan tidak ada nilainya dan akarnya, seperti binatang yang buas dan jahat, yang senantiasa menerkam manusia lainnya.

Manusia tanapa keimanan selalu bingung dan ragu yang tidak mengetahui hakikat dirinya, tidak mengetahui siapa yang memberikan kehidupan ini dan kenapa suatu saat harus berakhir kehidupan dari dirinya.

 

Q.S Taha (20):124

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

Artinya:

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.

Orang yang paling sengsara adalah yang krisis iman. Mereka selamanya berada dalam kesengsaraan, kepedihan dan kehinaan. Tidak ada sesuatu yang dapat membahagiakan, menyucikan, dan mengusir kegundahan dari jiwanya, selain keimanan yang benar kepada Allah SWT.

 

Q.S Al-Baqarah (2):257

اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْلِيَاۤؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Artinya:

Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.

 

Kini sudah saatnya kita menerima dengan ikhlas dan beriman dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Ilah selain Allah. Bagaimanapun, sepanjang sejarah kehidupan manusia dari zaman ke zaman telah membuktikan banyak hal dan menyadarkan akal, bahwa dibalik alam semesta ini ada kekuatan yang Maha Tinggi, yang menciptakan, menguasai, mengatur dan memelihara alam ini. Ada yang menamakannya dengan “Sebab Pertama”, ada yang menamakan “Akal Pertama” dan ada jugaa yang menamakan “Penggerak Pertama”. Al Qur’an dan Kitab-kitab Suci lainnya memberikan nama “Allah”. Terhadap kekuatan yang Maha Tinggi ini, kita sebut Tuhan Yang Maha Besar, tiadalah akal manusia sanggup mangetahui hakikat-Nya, bahwa Allah benar-benar pemilik kerajaan bumi dan langit, bahwa berhala-berhala itu hanya takhayul belaka, para Rasul itu benar adanya.

Q.S Al-An’am (6):153

وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚوَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Artinya:

Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.

~ Rachman

 

Sumber:

Al-Qur’an

Yusuf Qardhawi, Iman dan Kehidupan, Jakarta: Bulan Bintang, 1983.

Leave a Reply

Your email address will not be published.