Syahrul Haram: 10 Muharam 1442H

Iman: Jalan Menuju Kebenaran
26/08/2020
Muslim: Cara Pandang Terhadap Hati
23/09/2020

Syahrul Haram: 10 Muharam 1442H

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Bulan Muharram merupakan bulan pertama pada kalender Hijriah dan salah satu dari empat bulan haram yang berada pada urutan pertama diikuti tiga bulan lainnya yaitu Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Rajab. Dimana pada bulan-bulan tersebut Allah memuliakannya dan mengharamkan terjadinya peperangan. Pada bulan Muharram tersebut, umat Islam dianjurkan untuk melakukan amalan puasa sunah asyura yang bertepatan pada tanggal 10 Muharram.

 

Secara bahasa, kata asyura dalam bahasa Arab bermakna sepuluh, sedangkan secara istilah, asyura adalah tanggal 10, khususnya di bulan Muharram. Dinamakan demikian, karena sejumlah peristiwa yang terjadi pada tanggal tersebut.

 

Seperti yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim ketika Nabi datang ke Madinah dan melihat orang-orang yahudi berpuasa pada hari asyura sebagai rasa syukur atas keselamatan yang mereka peroleh dengan ditenggelamkannya Firaun dan tentaranya di Laut Merah oleh Allah.

 

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّه بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ نَحْنُ نَصُوْمُهُ تَعْظِيْمًا لَهُ 

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?” Mereka menjawab: “Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu”

(HR Bukhari dan Muslim)

 

Namun yang terpenting adalah keutamaan melaksanakan puasa asyura itu sendiri, yaitu dapat menghapuskan dosa-dosa pada satu tahun yang lalu. Seharusnya kita berpikir bahwa Rasulullah saja yang maksum (terbebas dari dosa) melaksanakannya apalagi kita yang tidak maksum. Tentunya kita sebagai umat Islam harus termotivasi untuk melaksanakannya. Sudah menjadi keniscayaan bahwa kita sebagai manusia tentunya tidak bisa luput dari dosa dan kesalahan.

 

Hal tersebut sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim ketika Rasulullah ditanya tentang puasa asyura, maka Nabi menjawab puasa itu bisa menghapuskan dosa-dosa pada satu tahun yang lalu.

 

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa di hari Asyura, maka beliau menjawab: “Puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) pada tahun kemarin”

(HR Muslim)

 

Adapun mengenai dianjurkannya puasa tasu’a yang bertepatan pada tanggal 9 Muharram adalah keinginan Rasulullah yang belum terlaksana karena sebelum datangnya tahun depan beliau telah wafat, seperti yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim.

 

صَامَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ الهِع صَلَّى الهُت عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan berpuasa. Para shahabat berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi.” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal sembilan.”, tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.”

(HR Muslim)

~ Rachman

Leave a Reply

Your email address will not be published.