28 Oktober 1928: Napak Tilas Perjuangan Pemuda

Daulah Umawiyah: Sebab Runtuhnya Bani Umawiyah
27/10/2020
Iman: Kepada Rasul
02/11/2020

28 Oktober 1928: Napak Tilas Perjuangan Pemuda

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Sebelum lahirnya Sumpah Pemuda, ada beberapa organisasi pemuda yang telah mewarnai lahirnya Soempah Pemoeda. Budi Utomo yang sudah berusia 20 tahun (1908-1928). Namun organisasinya tetap ekslusif terhadap suku yang bukan jawa dan wawasannya lebih fokus pada upaya menegakkan Jawa Raya. Selain itu, ditengah gegap gempitanya gerakan kebangkitan kesadaran nasional Indonesia, Jong Java (organisasi pemuda dari Budi Utomo) tidak membenarkan adanya ide dan cita-cita persatuan Indonesia. Bahkan menurut M.C Ricklefs golongan priyayi ekslusif ini bersikap kooperatif dengan pemerintah kolonial, lebih cenderung pada aliran kejawen. Maka hadirlah para pemuda islam yang memilih sikap non kooperatif terhadap pemerintah kolonial dengan mempelopori melepaskan ikatan organisatoris dengan Budi Utomo dan Jong Java, maka muncul organisasi pemuda yang melepaskan diri dari ikatan kedaerahan, kesukuan atau provinsialisme.

Oleh karena itu R. Sjamsoeridjal yang dinasehati oleh H. Agus Salim keluar dari organisasi Jong Java, walaupun pada saat itu sedang menduduki jabatan ketua Jong Java. Kemudian mendirikan Jong Islmieten Bond pada 1 Januari 1925. Selanjutnya didirikan juga di Jakarata dan di Bandung Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling. Beberapa nama besar pernah menjadi pimpinan atau anggota Jong Islamieten Bond, yakni Kasman Singodimedjo, Mohammad Roem, Syafruddin Prawiranegara, dan Mohammad Natsir.

Kebangkitan Jong Islamieten Bond dan Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling dengan melepaskan diri dari keterikatan dengan garis kedaerahan Jong Java telah membangkitakan perjuangan menegakkan nasionalisme Indonesia, ingin melepaskan dari penindasan dan berjuang menjadi tuan di rumah sendiri. Demikianlah motivasi mengapa Jong Islamieten Bond dan Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling didirikan. Selain itu mendorong lahirnya Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia pada tahun 1926. Serta di Bandung, berdiri Jong Indonesia.

Penyelenggaraan Kongres Pemuda I, 2 Mei 1926 dan Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928. Telah didahului oleh Kongres Jong Islamieten Bond pertama di Yogyakarta, Desemeber 1925. Selanjutnya, diselenggarakan Kongres kedua Jong Islamieten Bond di Surakarta, 24-26 Desember 1926. Kemudian, diadakan Kongres ketiga Jong Islamieten Bond, 23-27 Desember 1927 di Yogyakarta yang membahasa antara lain Islam dan cita-cita persatuan Indonesia. Komitmen Jong Islamieten Bond terhadap Indonesia, dibuktikan dengan mengirim delegasinya, Johan Mahmud Caya dan Ma’mun al Rasyid untuk menghadiri Kongres Pemuda kedua di tahun 1928.

Tujuan Kongres Pemuda I, antara lain mencari jalan membina perkumpulan pemuda yang tunggal, yaitu dengan membentuk sebuah badan sentral dengan maksud untuk memajukan persatuan dan kebangsaan Indonesia, serta menguatkan hubungan antara sesama perkumpulan pemuda kebangsaan di tanah air.

Salah satu tokoh yang mengemukakan gagasan tersebut adalah Mohammad Yamin yang kala itu aktif dan memimpin organisasi Jong Sumatranen Bond. Melalui pidatonya, Kemungkinan Bahasa-bahasa dan Kesusastraan di Masa Mendatang, Mohammad Yamin menyodorkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

Namun, Kongres Pemuda I diakhiri tanpa hasil yang memuaskan bagi semua pihak lantaran masih adanya perbedaan pandangan. Setelah itu, digelar lagi beberapa pertemuan demi menemukan kesatuan pemikiran. Maka, disepakati bahwa Kongres Pemuda II akan segera dilaksanakan.

Kongres Pemuda II dilangsungkan selama dua hari pada 27 dan 28 Oktober 1928 di Batavia. Hari pertama, kongres menempati Gedung Katholikee Jongelingen Bond atau Gedung Pemuda Katolik, sedangkan kongres di hari kedua diadakan di Gedung Oost Java (sekarang di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat).

Tujuan Kongres Pemuda II antara lain melahirkan cita cita semua perkumpulan pemuda pemuda Indonesia, membicarakan beberapa masalah pergerakan pemuda Indonesia serta memperkuat kesadaran kebangsaan dan memperteguh persatuan Indonesia.

Pada hari kedua Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, lahirlah keputusan yang dinamakan Sumpah Pemuda:

Pertama          Kami Putra dan Putri Indonesia Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia.

Kedua              Kami Putra dan Putri Indonesia Mengaku Berbangsa Darah Satu, Bangsa Indonesia.

Ketiga              Kami Putra dan Putri Indonesia Menjungjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.


Q.S. Ali-Imran:103

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ 

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

~ Rachman

 

Referensi:

Ahmad Mansur Suryanegara. API sejarah 1 Maha Karya Ulama dan Santri dalam Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bandung: Suryadinasti, 2014.

Leave a Reply

Your email address will not be published.