Iman: Kepada Rasul

28 Oktober 1928: Napak Tilas Perjuangan Pemuda
27/10/2020
Ma’rifatul Allah: Hubungan Penciptaan dan Tugas Manusia
13/12/2020

Iman: Kepada Rasul

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Apabila kita renungkan sejarah kehidupan manusia dengan kesadaran iman kepada Allah dan dengan perasaan siap kembali menghadap Allah, maka kita akan menemukan kenyataan. Dunia ini keadaannya mirip dengan seorang pemabuk, yang masa mabuknya lebih lama daripada masa sadarnya atau sebagai penderita sakit demam yang karena hilang kesadarannya ia mengigau tidak tahu apa yang diucapkannya. Dari pengalaman hidupnya sendiri, sebenarnya manusia mendapat dorongan untuk menghindari segala yang buruk di dunia ini dan bisa memperoleh segala yang baik, akan tetapi pengalaman dan pengetahuan tidak berguna bila ia sudah dikuasai oleh hawa nafsu.

Sebelum itu, berabad-abad silam yang telah lewat dan masa yang amat panjang itu telah banyak melahirkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Melalui berbagai macam pengalaman tumbuhlah berbagai jenis kebudayaan dan keterampilan. Walaupun begitu, manusia masih terus-menerus dikalahkan dan dikuasai oleh kebingungan, akhirnya banyak bangsa-bangsa jatuh terperosok ke dalam keadaan yang tidak dinginkan. Pada akhirnya, manusia yang oleh Allah diamanatkan sebagai khalifah di muka bumi, berudah kedudukannya menjadi semartabat dengan budak yang mengabdi kepada sesuatu yang paling rendah nilainya di langit dan di bumi.

Jika kita kembali membuka kita-kitab Tarikh, kita akan mengetahui bahwa bangsa Arab di sekitar Jazirah Arab pada masa dahulu sebelum Nabi Muhammad diutus, sudah memahami keesan Allah, sudah mengenal tuhan Allah. Dan lebih tegas mereka telah mengikuti agama yang menuhankan Allah. Karena sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, sudah sering kali kedatangan para Nabi utusan Allah, yang menyampaikan seruan kepada mereka supaya beribadah kepada Allah dan jangan sampai menyekutukan-Nya.

Sepanjang riwayat yang hingga sampai kini masih dapat diketahui dan sebagainnya telah disebutkan dalam Al-Qur’an. Nabi utusan Allah yang datang dan menyeru kepada bangsa Arab disekitar Jazirah Arab diantranya adalah Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s. Singkatnya bangsa Arab pada masa itu mengikuti apa yang diserukan oleh Nabi Ibrahim a.s yang pokoknya adalah mentauidkan Allah.

 

Q.S Al-Baqarah (2):125

وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

Artinya:

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!”

Akan tetapi setelah beberapa puluh tahun kemudian, agama Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s yang suci itu diputarbalikkan, diubah, direka, ditambah dan dikurangi oleh para pengikut agama itu sendiri, hingga akhirnya agama Nabi Ibrahim a.s hanya tinggal nama saja.

Adapun jelasnya agama bangsa Arab pada masa itu dapat disebutkan, mereka percaya dan yakin adanya tuhan. Dia yang menciptakan seluruh makhluk, yang mengurus, yang mengatur dan yang memberikan segala sesuatu yang diinginkan oleh manusia. Akan tetapi, dalam beribadah mereka membuat atau mengadakan berbagai perantara. Diantarnya ada yang menyembah malaikat, jin, bintang-bintang dan berhala.

Di tengah-tengah kerusakan moral manusia itulah risalah Nabi Muhammad SAW datang. Risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW menghimpun semua misi kerasulan dan kenabian sebelumnya. Sekaligus sebagai penutup kerasulan dan kenabian sebelumnya. Artinya mencakup semua manusia di muka bumi. Risalah Nabi Muhammad SAW adalah untuk semua tempat dan waktu. Oleh sebab itulah, bisa dipastikan bahwa pembawa Risalah ini memiliki derajat dan kemampuan yang sanggup untuk membawa Risalah tersebut yang Allah pilih dengan kelebihan-kelebihan khusus.

Keutamaan-keutamaan Nabi Muhammad SAW adalah sebagai berikut:

  1. Allah memilihnya dari bangsa Arab yang merupakan bangsa pertengahan. Beliau dijadikan dari tengah-tengah orang Quraisy yang merupakan kabilah Paling utama di kalangan Arab. Sedangkan, nasabnya berasal dari yang paling mulianya golongan Quraisy yakni Bani Hasyim.
  2. Negerinya berada di tengah-tengah yang memungkinkan dakwah menyebar ke segala penjuru.
  3. Allah memilihnya dari satu umat yang sedikit nabi-nabinya sehingga beliau memiliki nilai yang demikian tinggi.
  4. Allh mengutusnya di saat terjadi kesenjangan kenabian (fatrah) para rasul dengan tujuan agar jiwa manusia siap menerima kedatangannya. Allah berfirman dalam Q.S Al-Ma’idah (5):19

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ قَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلٰى فَتْرَةٍ مِّنَ الرُّسُلِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا جَاۤءَنَا مِنْۢ بَشِيْرٍ وَّلَا نَذِيْرٍۗ فَقَدْ جَاۤءَكُمْ بَشِيْرٌ وَّنَذِيْرٌ ۗوَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ࣖ

Artinya:

Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan, “Tidak ada yang datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sungguh, telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

  1. Allah telah mengabarkan tentang akan diutusnya Muhammad di dalam Kitab-Kitab Samawi sebelumnya.
  2. Allah memilihnya dari sebuah bangsa yang lebih dekat kepada pedusunan yang belum dirusak oleh pola dan budaya kota dan peradaban yang ada.
  3. Allah mengutusnya dari sebuah bangsa yang ummi (yang tidak bisa baca tulis) yang tidak mengerti tentang filsafat dan ilmu pengetahuan.
  4. Allah menjadikan seluruh perjalanan hidupnya diketahui dengan jelas dan lengkap serta terperinci dengan tujuan agar perilakunya bisa dijadikan sebagai suri teladan.
  5. Perjalanan hidupnya mencakup semua sisi dan dimensi kehidupan.
  6. Perjalanan hidupnya bisa diamalkan dan realistis, yang bisa dilakukan oleh setiap orang kapan saja dan di mana saja.

Dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdu Mutthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy) bin Malik ibnul-Nadhr bin Kinanah, salah seorang anak Nazar bin Ma’ad bin Adnan. Mereka adalah anak cucu Nabi Ismail bin Ibrahim a.s.

 

Q.S Saba’ (34):28

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَاۤفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

Artinya:

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

 

Q.S Al-Anbiya (21):107

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Artinya:

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

Allah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam, Rasulullah menyeru bangsa Arab dan seluruh umat manusia pada agama yang melahirkan kebaikan dan kebahagiaan bagi manusia di dunia dan akhirat.

Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada 12 Rabiul Awwal di Mekah pada tahun Gajah sekitar tahun 570 M/52 Sebelum Hijrah. Tahun ini bersamaan dengan usaha Abrahah, penguasa Yaman, untuk menghancurkan Ka’bah. Namun, Allah membinasakan dia dan pasukannya dengan burung ababil yang melempari mereka dengan batu-batu sijjil. Kisah ini disebutkan dalam surah al-Fiil.

Rasulullah dikenal memiliki perilaku dan akhlak yang baik dalam semua fase perjalanan hidupnya. Dia adalah sosok yang senantiasa menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, meniauhi minuman keras, dan tidak pernah duduk di tempat-tempat yang penuh dengan kesia-siaan. Aisyah r.a berkata, “Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an”.

Pada bulan Rabiul Awwal ini terdapat salah satu momen yang tidak asing dan sering diperingati oleh umat Islam yaitu maulid Nabi Muhammad SAW. Sejatinya bagi setiap Muslim dan Mu’min yang beriman kepada Rasul-Nya hendaknya tidak hanya memperingatinya saja. Namun, bisa dengan cara mengenalnya dengan membaca Sirah Nabawiyah, menghayati segala fase perjalanan hidupnya. Akan tetapi lebih dari itu dengan menguswah dan mengikutinya serta mengamalkan ajaran yang di bawanya dari Al-Qur’an dan Sunnah dan berhukum dengannya, tanpa mendahulukan suatu hukum atau pendapat di atas keduanya. Sekiranya kaum Muslimin menetapkan hukum dengannya, niscaya kembalilah kemuliaan dan kemenangan bagi mereka.

 

Q.S Al-Ahzab (33):21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Artinya:

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.

~ Rachman

 

Referensi:

Ahmad al-Usairy. Sejarah Islam (Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX). Jakarta:  Akbar Media, 2003.

K.H Moenawar Chalil. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW 1. Jakarta: Gema Insani Press, 2001.

Leave a Reply

Your email address will not be published.