Takwa: Target Utama Puasa

Tebar Kasih Sayang & Kebaikan Sebelum Memasuki Bulan Ramadhan
08/04/2021
Ramadhan apakah bulan sandiwara?
01/05/2021

Takwa: Target Utama Puasa

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Q.S Al-Baqarah (2):183.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Salah satu rukun Islam yang menjadi pilar agama ini dan wajib dilaksanakan adalah puasa, dalam hal ini puasa Ramadhan. Disebutkan bahwa Puasa Ramadhan adalah kewajiban dan ibadah Islam yang bersifat syi’ar yang besar. Seperti dalam firman Allah diatas, puasa adalah ibadah yang bertujuan untuk menyucikan jiwa, menghidupkan hati nurani, menguatkan iman, dan mempersiapkan seseorang menjadi manusia bertakwa. Maka dalam hal ini puasa menjadi penghantar bagi orang yang beriman untuk menjadi orang yang bertakwa.

Hakikat takwa adalah seorang hamba mengenal pencipta-Nya dengan penuh kesungguhan. Ia mengenal Allah SWT dengan nama dan sifat yang dimiliki-Nya, Keagungan-Nya dan kekuasaan-Nya. Semua itu akan semakin membuatnya takut kepada Allah dan behati-hati untuk tidak terjerumus kedalam perbuatan maksiat. Ia juga akan semakin menyadari akan semua rahmat-Nya, ampunan-Nya dan nikmat-nikmat-Nya yang tidak terhitung. Serta semua yang telah Dia dihamparkan kepada seluruh hamba-hamba-Nya dimuka bumi ini.  Pemahaman dan kesadaran seperti ini akan membuatnya tidak berlamban-lamban dalam menggapai ridha Allah SWT.

Dengan demikian, takwa merupakan sikap kehati-hatian dan menjaga diri untuk tidak terjerumus dalam perbuatan-perbuatan yang bisa memicu datangnya azab Allah SWT. Dalam pandangan orang-orang yang memiliki keimanan yang teguh, takwa merupakan sikap waspada dan menjaga diri dari munculnya jarak yang menjauhkan seorang hamba dengan Allah SWT. Takwa tak ubahnya seperti seorang yang sedang melangkah diatas jalan yang berduri. Maka bisa dipastikan, dia akan sangat berhati-hati saat menitinya.

Umar bin Khattab pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab. Ubay menjawab, “wahai Amirul mukminin, pernahkah anda meniti jalan yang dipenuhi duri?” Umar menjawab, “pernah.” Ubay bertanya lagi, “apa yang anda lakukan pada saat it?” Umar menjawab, “aku singsingkan lengan bajuku dan berupaya semaksimal mungkin agar tidak terkena duri.” Ubay berkata “begitupula takwa.”

Jika seorang Umar bin Khattab ‘Amirul Mukminin’, yang telah dijanjikan masuk surga saja masih bertanya tentang makna takwa, dan sangat antusias untuk melaksanakannya, maka mengapa kita yang jauh berada dibawahnya, justru malah bermalas-malasan. Contoh ketakwaan yang sangat mengagumkan dari sahabat Rasulullah. Walaupun dia memiliki kedudukan dalam islam serta sumbangsihnya yang besar tetapi tidak membuatnya terlena dan tidak tertipu oleh semua itu serta tetap merasa takut kepada Allah. Begitulah orang yang bertakwa akan selalu waspada dan berhati-hati dari duri yang melintang dijalanan, yaitu dosa dan perbuatan maksiat. Kewaspadaan tak pernah luput dari setiap langkah yang ditapakannya. Dia merasa bahwa Allah selalu mengawasinya.

Itulah rahasia mengapa ayat tentang puasa diakhiri dengan kata takwa adalah untuk mempersiapkan jiwa orang yang berpuasa untuk bertakwa kepada Allah SWT. Puasa itu adalah ibadah saksiyah yang sepenuhnya diserahkan kepada diri dan nurani orang tersebut. Tidak ada yang memonitorinya kecuali Allah Swt dan ibadah yang sedang dijalankannya adalah rahasia antara dirinya dengan Allah saja. Tidak ada yang bisa mengetahuinya selain Allah, sebab orang yang berpuasa bisa saja berbuka secara diam-diam. Akan tetapi karena merasa dimonitori oleh Allah, dia akan mampu konsisten dan komitmen, penuh amanah dalam menjaga puasanya walaupun banyak godaan. Jadi, pelaksanaan ibadah puasa selama sebulan penuh merupakan Pendidikan yang sangat baik dalam pembinaan sifat takwa yang sangat agung.

Puasa akan membentuk diri seorang muslim menjadi bertakwa dan merasa diawasi oleh Allah sepanjang tahunnya. Allah Swt yang mengawasi selama bulan Ramdhan, Dia jugalah yang akan mengawasai bulan-bulan lainnya. Dia Maha Mengetahui dan Maha Melihat.

Didalam Al-Qur’an banyak disebutkan keistimewaan orang yang yang bertakawa. Karena itulah Allah menghadiahkan janji manis untuk orang yang bertakwa kepada-Nya. Dan janji Allah itu pasti. orang yang bertakwa memperoleh derajat kemuliaan di hadapan Allah swt. Seperti didalam firman Allah Swt

Q.S Al-Hujurat (49):13

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ – ١٣

Artinya: Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakawa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.

Nilai seseorang bukanlah dilihat dari kekayaan dan kemiskinannya, atau dari kuat dan lemahnya dia, namun yang dilihat oleh Allah swt adalah seberapa kuat dan tinggi keimanan dan kebertakwaan-Nya kepada Allah swt. Bilal bin Rabah tidaklah kaya dan tidak pernah menduduki jabatan apapun semasa Rasulullah saw, namun terompah ka­kinya di surga telah terdengar saat lagi masih di dunia, sebagaimana yang diungkapkan Rasulullah saw dalam sebuah riwayat.

            Selain itu ciri-ciri orang yang bertakwa dapat secara jelas kita lihat seperti dalam firman Allah Swt

Q.S Ali-‘Imran (3):133-135.

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ – ١٣٣ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ – ١٣٤ وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ – ١٣٥

Artinya: Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan, dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

            Paling tidak ada lima ciri-ciri secara umum orang yang bertakwa diantaranya; Pertama, dalam hidupnya gemar menginfakkan harta bendanya di jalan Allah, baik dalam keadaan sempit maupun lapang. Kedua, mampu mengendalikan serta menahan diri dari sifat amarah. Ketiga, selalu bersifat pemaaf dan tidak pendendam kepada orang lain yang berbuat salah. Keempat, ketika terjerumus pada perbuatan keji dan dosa atau menzalimi diri sendiri, ia segera ingat kepada Allah, dan kemudian bertobat, beristighfar, memohon ampunan kepada-Nya atas segala perbuatan dosa yang telah dilakukannya. Kelima, secara sadar tidak mengulang perbuatan keji dan mungkar yang pernah dilakukan. Serta diberikan tepat yang paling mulia yaitu surga.

            Jelaslah bahwa dengan takwa kepada Allah Swt akan dapat kita raih kemulian, baik hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Melalui ibadah puasa yang selama sebulan penuh kita tunaikan semoga dapat membentuk sebuah pribadi yang lebih baik dan yang lebih penting adalah dapat meningkatkan kualitas keimanan serta ketakwaan kepada-Nya.

~ Rachman

Leave a Reply

Your email address will not be published.