Bagian Pertama: Alam Ruh

Istiqamah Pasca Bulan Ramadhan
09/06/2021

Bagian Pertama: Alam Ruh

Photo by Jose Aragones from Pexels

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Allah berfirman dalam Q.S Al-Isra’ (17): 85

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

Artinya: “Dan mereka kelak akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Atas dasar ayat inilah pembahasan mengenai alam ruh, argumentasinya hanya akan berdasarkan informasi dari firman Allah SWT yaitu Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, dan karenanya pembahasan mengenai alam ruh ini termasuk kajian metafisik (ghaib), maka kebenaran mengenai alam ruh ini hanya akan dapat diterima oleh setiap insan yang memiliki iman didalam qolbunya.

Mengapa? Seluruh proses yang terjadi di alam ruh adalah hal yang haq (pasti benar), pasti dialami oleh setiap manusia yang lahir ke dunia ini. Mengapa masih ada yang ragu, bahkan menentangnya karena tidak merasakan dan mengingatnya, tegasnya karena tidak ada bukti outentiknya, kata mereka. Untuk itulah mari kita jawab dengan sejujurnya. Apakah kita pernah merasa dan atau ingat ketika kita berada di alam rahim? Tentu saja jawabnya “tidak”. Setiap manusia jika ditanya dari mana ia berasal, maka ia akan menjawab, dari rahim atau perut ibu. Dan jika kita yakinkan kembali apakah dirinya berasal dari perut ibu mereka, secara pasti mereka akan menjawab “ya”. Tetapi, ketika kita ulangi kembali, apakah di antara mereka ada yang ingat dan merasakan ketika mereka berada di alam rahim atau di perut ibu mereka? Kembali kita akan mendapat jawaban “Tidak”, mereka pasti akan menjawab, “aku tidak ingat, tetapi ibu dan ayahku, saudaraku, dan manusia lainnyalah yang menyaksikan diriku berada dalam perut ibuku”. Dan dengan dasar jawaban tersebutlah maka ia yakin bahwa dirinya berasal dari perut ibunya, walaupun ia sama sekali tidak pernah mengingatnya dan merasakan. Padahal, ketika bayi berumur di atas 4 bulan, ia sudah dapat merasakan dan berinteraksi dengan dunia luar.

Setiap ruh manusia yang berada di alam ruh dapat dipastikan berbicara, bahkan ia menyaksikan Allah SWT dan berinteraksi dengan-Nya, Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-A’raf (7): 172

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”

Photo by Jose Aragones from Pexels

Ayat di atas menjelaskan tentang perjanjian setiap ruh dengan Allah. Sebelum ruh masuk ke dalam janin, Allah SWT bertanya ulang kepada ruh “Alastu birabbikum” (bukankan Aku ini Tuhanmu?). Pertanyaannya bukan “Man Rabbuka” (sipa Tuhanmu). Itu artinya, pertanyaan ini meminta komitmen, bukan sekedar menjawab “Allah”. Ruh pun menjawab “Bala syahidna” (Ya, kami bersaksi).

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa perjanjian yang telah diucapkan oleh setiap ruh itu disaksikan oleh Nabi Adam AS dan para malaikat dan tujuh langit dan bumi. Tetapi ketika setiap jiwa yang lahir ke dunia, ia melupakan segala apa yang telah terjadi di sana. Jangankan untuk mengingat keberadaan kita di alam ruh, untuk dapat mengingat orang yang pertama kali menggendong kita, atau makanan pertama yang kita makan, mainan pertama yang kita miliki, tidak dapat mengingatnya.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits bahwa: “Ketika Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggungnya, maka dari punggung itu setiap roh yang menyerupai biji atom berjatuhan, yang Dia (Allah) adalah penciptanya sejak itu sampai hari kiamat kelak”. (H.R. Tirmidzi).

Lebih detail lagi, ada sebuah riwayat dari Ubay bin Ka’ab, ia mengatakan bahwa; “Mereka (roh tersebut) dikumpulkan, lalu dijadikan berpasang-pasangan, baru kemudian mereka dibentuk. Setelah itu mereka pun diajak berbicara, lalu diambil dari mereka janji dan kesaksian, “Bukankah Aku Tuhanmu?”, Mereka menjawab, “Benar, kami bersaksi”. Sesungguhnya Aku akan mempersaksikan langit tujuh tingkat dan bumi tujuh tingkat untuk menjadi saksi terhadap kalian, serta menjadikan nenek moyang kalian Adam sebagai saksi, agar kalian tidak mengatakan pada hari kiamat kelak, “Kami tidak pernah berjanji mengenai hal itu”. Ketahuilah bahwasanya tiada tuhan selain Aku semata, tidak ada Rabb selain diri-Ku, dan janganlah sekali-kali kalian mempersekutukan-Ku. Sesungguhnya Aku akan mengutus kepada kalian para Rasul-Ku yang akan mengingatkan kalian perjanjian-Ku itu. Selain itu Aku juga akan menurunkan kitabkitab-Ku”. Maka mereka pun berkata, “Kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami, tidak ada Tuhan bagi kami selain hanya Engkau semata”. Dengan demikian mereka telah mengakui hal tersebut. Kemudian Adam diangkat di hadapan mereka dan ia (Adam) pun melihat kepada mereka lalu ia melihat orang yang kaya dan orang yang miskin, ada yang bagus dan ada juga yang sebaliknya. Lalu Adam berkata, “Ya Tuhanku, seandainya Engkau menyamakan di antara hamba-hamba-Mu itu”. Allah menjawab, “Sesungguhnya Aku sangat suka untuk Aku disyukuri”. Dan Adam melihat paraNabi di antara mereka seperti pelita yang memancarkan cahaya kepada mereka”. (H.R Ahmad).

Untuk lebih memantapkan keyakinan kita atas kebenaran-Nya, mari kita renungkan firman Allah dalam

Q.S Al-Hadid (57): 8

وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۚوَالرَّسُوْلُ يَدْعُوْكُمْ لِتُؤْمِنُوْا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ اَخَذَ مِيْثَاقَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Artinya: Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul mengajak kamu beriman kepada Tuhanmu? Dan Dia telah mengambil janji (setia)mu, jika kamu orang-orang mukmin.

Yang dimaksud dengan janji ialah perjanjian ruh Bani Adam sebelum dilahirkan ke dunia bahwa dia mengakui, bahwa Tuhannya ialah Allah SWT, seperti disesebutkan dalam Q.S Al-A’raf (7): 172.

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ubay bin Ka’ab di atas dan firman Allah SWT dalam Q.S Al-Hadid (57): 8, memberi kesan kepada kita bahwa Allah SWT seakan-akan memberitakan kepada kita, mengapa manusia itu tidak mau beriman kepada Allah melalui seruan Rasul-Nya, padahal dahulu pada satu waktu dari masa (ketika manusia berada di alam ruh) Allah SWT telah mengambil kesaksian dan perjanjian dengan mereka tentang ketauhidan Allah SWT. Dan Allah SWT seakan-akan memberikan isyarat kepada manusia, bahwa manusia tidak pernah dapat mengingat secara rinci perjanjian tersebut, hanya keimanan sajalah yang bisa membuat manusia meyakini kejadian ini.

*pembahsan ini akan dilanjutkan pada bagian kedua mengenai alam rahim

Referensi:

Dr. Asep Zaenal Ausop, M. Ag, Islamic Character Building (Membangun Insan Kamil Cendekia Berakhlak Qurani), Bandung: PT. Grafindo Media Partama, 2014.

~ Rachman

Leave a Reply

Your email address will not be published.